Cerita Sebelumnya:
PENGABDIAN TULUS (Bagian 4)
Beberapa bulan kemudian kehidupanku berjalan dengan indah tanpa kehadiran seorang Apak. Meskipun hari-hariku kuhabiskan untuk membantu Mak Berdagang di warung yang didirikannya di rumah reot yang kecil ini. Padahal biasanya, anak seusiaku ini lebih sering bermain dan belajar daripada membantu orangtuanya. Aku tidak demikian, bagiku ini adalah hidup yang memang harus kujalani dengan penuh pengabdian kepada orangtuaku. Bagaimana tidak, tak ada lagi harta yang tersisa, hidup dengan berdagang di warung hanya cukup untuk makan dan biaya sehari-hari.
Setiap pagi, aku tak tega dengan pekerjaan Mak yang segunung, dan kulihat tumpukan baju dan cucian peralatan rumah tangga sudah menumpuk. Maka, akupun dengan segera membantu menyucikan bajunya itu disungai.
Dengan tergesa-gesa, aku yang sedang keasyikan mencuci baju di kali disuruhnya pulang.
“Ayo nak cepatlah pulang,dan buatkan pisang goreng hangat ya!”
“Ah, tak seperti biasanya Mak, seperti itu, ada apa ini.” gumamku
Saat aku menjejakkan kakiku di rumah, Hah betapa terkejutnya diriku srigala busuk itu kini telah kembali.
“Mak, apa kau tahu dia itu telah menghianatimu Mak, dia itu licik!
“Diam kau anak anjing, atau kucekik lehermu!” lolongan srigala itu menyeruak
“kucincang mulutmu!” aku dengan segera menyahutnya
“Apa??”Berani-beraninya dirimu mengata-ngataiku. Apa kau tak cukup puas dengan sikap kami yang dari kecil merawatmu?”
“Diaaaamm!!!!!” pekik Mak
“Sudahlah nak, Makmu ini sudah mendengar semua permasalahannya dari Apakmu itu, janganlah kalian bermusuhan lagi kita akan tinggal bersama seperti dulu” Ah, sepertinya Mak begitu riang menyambut kedatangan seorang yang tak patut dipercaya itu. Tapi, aku takkan tinggal diam saja, takkan kubiarkan Makku terbujuk oleh omong kosong srigala busuk ini. Aku berusaha untuk meyakinkan Mak.
“Apa yang harus, dipertahankan Mak? kenapa kita harus hidup bersama seperti dulu lagi?” dia itu pemalas, kerjanya hanya kawin, kawin, dan kawin.”
“Lihat saja, lihat saja Mak, mulut dan giginya seperti onta!” Apak langsung menampar wajah dan menjambak-jambak rambutku.
Timbullah perkelahian sengit diantara kami.
“Diamm!!!” Anak jadah, haram sialan!!!” Teriakan Mak itu langsung membuat dunia ini seakan terhenti. Aku merasa ada keganjilan dalam hidupku. Yah, kenapa Mak mengata-ngataiku anak jadah haram sialan, kenapa Apak selau mengata-ngataiku anak anjing???”
“Tidaaaakkkkk!!!!” aku berteriak, sekeras mungkin tubuhku lemas.
“Ada, apa ini?” Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan mereka berdua entah aku tak tahu, ataukah ini sebuah misteri bagi diriku? kegalauan itu bangkit dalam pikiranku. dan kucoba memberanikan diri bertanya kepada mereka.
“Mak, ada apa ini?” Pak apa yang kau sembunyikan dariku?. Tubuh Apak dan Mak kugoncangkan dengan sekeras-kerasnya.
“Kenapa kau selalu mengata-ngataiku anak anjing, kutu busuk? apa aku ini anak haram pak?” bapak diam saja” Ayo,jawab kenapa kalian hanya diam saja!” Apa kamu ingin anakmu ini mati di depanmu Mak? Mak, hanya menangis dan seakan terbujur kaku, pedih, perih. ia berusaha menjawab dengan tenang.
“Nak, tahukah kau bahwa kau bukanlah anak kami!”. Seperti ada petir di siang bolong yang menyambarku. Air mata bercucuran darah, menghempas relung hati yang dalam, menusuk jiwa yang kosong, hampa, tak ada daya.
“Ini semua tak perlu kau sesali dan terimalah permintaan maaf dari Mak dan Apakmu ini nak, selama ini Mak tak pernah menceritakan padamu, karena aku tak ingin kehilangan dirimu.” Sebenarnya ini semua adalah salah Mak, Mak tak bisa memberi keturunan terhadap Apakmu, dan sebagai pelampiasannya Apakmu kawin dengan banyak wanita karena dia ingin mendapatkan keturunan dari dia sendiri. Sebenarnya engkau adalah anak dari orang gila yang kami pungut di jalan.”
Tatapan dan jiwaku makin kosong, tubuhku begitu lemas dan kaku, aku hanya bisa meneteskan air mata, aku ingin berlari dan berteriak sekeras-kerasnya, bahkan jika dapat, aku ingin mengabarkan kepada seluruh dunia bahwa aku ini anak orang gila. Tapi, apa daya diriku yang terbujur kaku dan lemas ini. Sudah sepatutnya aku berterimakasih kepada mereka berdua. Tanpa mereka, aku tak tahu bagaimana aku bisa mengirup segarnya udara, melihat dunia, merasakan tangis, canda maupun tawa. Tanpa mereka, mungkin aku takkan ada artinya.
“Oh tuhan, sujud syukurku kepadamu, masih ada orang yang mau mengasuhku, segenap pengabdian dan cinta kasih ‘kan tulus kuberikan untukmu, Pak, Mak!
By: Dina Merdeka
Label: Cerpen, Pengabdian Tulus
Cerita Sebelumnya:
PENGABDIAN TULUS (Bagian 3)
Beberapa, hari, bulan dan tahun telah kulewati dengan kejadian yang menyiksaku, sampai akhirnya Mak Pulang kembali. Dengan girang dan riang ia seperti menyambut kejayaan dengan harta yang berlimpah yang telah ia cari dengan jerih payah dan upayanya itu. Tiada sambutan yang meriah ketika Mak pulang, karena tiada orang yang tahu bahwa Mak hari itu akan datang. Sekonyong-konyong Mak terkejut ketika ia menemukan Apak sedang tidur dengan wanita lain. Hatinya merasa teriris sembilu, pedih, perih.
Timbullah percekcokan diantara mereka.
“Apa yang kau lakukan, bajingan tengik! Mak serta merta mencekik leher Apak dan mencoba melemparinya dengan kursi dan meja yang ada di ruangan itu.
Aku mendengar betapa bisingnya hari itu, hari yang seharusnya kusambut dengan kegembiraan atas kepulangan Mak, malah membuatku seperti tikus ketakutan.Aku hanya bisa diam di kamar dan tak beranjak di bawah dipan kasurku. Dan ketika ku hampir terlelap dalam tidur, tak kudengar lagi percekcokan diantara mereka. Kulihat seorang manusia menghampiriku dengan penuh perasaan, ia memelukku
“Anakku, kenapa kau ada disini?” jangan takut nak, Apakmu telah ku usir. Mak sudah tahu, Apakmu itu licik.”
“Mak, tahukah kau ia tak pantas lagi disebut sebagai manusia, ia itu srigala mak.” dia telah membohongimu untuk kerja di Arab demi kesenangannya saja, Ia telah berulang kali kawin dengan wanita jalang.Bahkan, Tanah dan sawah waris telah dijualnya Mak!”
“Apa, katamu Warni?” Mak menangis tersedu-sedu air matanya jatuh bercucuran, menampilkan segala kemelaratannya saat ini.
“Iya, Mak itu semua adalah benar, Srigala busuk itu telah menghancurkan hidup kita. Uang penghasilan Mak habis dihambur-hamburkannya dengan wanita jalang itu!
Tangisnya semakin pilu dan memekik telinga. Mungkin jika tumbuhan dan binatang dapat merasakan dan menyaksikan kegalauannya, mereka akan menjerit dan meraung-raung. Tak ada usaha untuk menghibur dan membuatnya tertawa.
“Sudahlah, Mak tak ada yang harus ditangisi lagi, semuanya telah usang.”
Aku memeluknya erat.
Tubuh Mak gontai…
Label: Cerpen, Pengabdian Tulus
Cerita Sebelumnya:
PENGABDIAN TULUS (Bagian 2)
Aku sudah mulai bosan dengan tingkah Apakku yang terlihat bijaksana di mata Mak. Dia menurutku sudah begitu keterlaluan, berulang kali Mak ditipunya. Dulu Apak menyuruh Mak berangkat keluar Negeri untuk menjadi babu.
“Pergilah, Misnah, pergilah kau ke Arab, aku yang akan menjaga tanah dan sawahmu. Kita tak harus hidup miskin terus-menerus seperti ini bukan?” Jika kau kerja di Arab tentu saja kita akan cepat kaya seperti tetangga-tetangga kita yang lain itu lho!”
Sedikitpun Mak tidak membantah ucapan Apak. Mungkin Mak menganggap suaminya adalah orang yang amat bijaksana lagi penyayang terhadap keluarga. entah apa ia belum mengerti segala sifat Apak atau ia hanya menuruti perintah Apak seberapapun bejat kelakuannya. Yang pasti aku tak tahu dan itu menjadi misteri tersendiri dalam hidupku.
Beberapa bulan kemudian Mak berangkat ke Jakarta untuk training jadi babu. Yah, sampai akhirnya ia mengabarkan bahwa dalam waktu dekat, ia akan segera diberangkatkan ke Arab Saudi.
Apak, seperti kegirangan mendengarnya. Aku tak tahu, apakah Apak tidak merasa sedih dan kehilangan, dan mengapa ia begitu rela membiarkan Mak kerja jadi babu di negeri orang. Begitu banyak pemberitaan di media massa tentang tindak kekerasan terhadap para babu, tapi itu tak menyurutkan niat keduanya.
Aku hanya dapat berkata dalam batin.” Pak, apa dirimu tak kasihan sama Mak??!” Apak, bagiku adalah penipu ulung yang tega-teganya mempermainkan Mak.
Dalam hidupku yang jauh dari Mak, aku merasa sepi dan sendiri. Apak berulang kali kawin dengan wanita jalang, dan sedikitpun ia tak memperhatikan diriku. Ia jarang pulang ke rumah, sebulan, dua bulan, tak kuhitung pastinya. Makin hari tubuhku kian kurus kerontang memikirkan nasib keluargaku tapi aku tak dapat berkutik.Yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat mempertahankan hidup.Tanpa Mak, makan sepiring dalam satu hari adalah anugerah yang terindah dalam hidup. Tapi kesendirian itu akan lebih membahagianku, ketimbang ada seorang Apak yang bengis dan cerewet.
Kepulangan Apak dirumah akan menimbulkan perkara saja. Seringkali ia terlihat mabuk sambil mengeluarkan kotoran busuk di mulutnya. Ikut pula istri entah yang keberapa, ke sepuluh, dua puluh entah aku tak tahu. Akupun menegurnya.
“Pak, lebih baik kau pergi dari kampung ini, apa kau tak malu dengan warga kampung kita pak?” Ia pun dengan segera mengata-ngataiku Anak gila, sinting, edan, kutu kupret dan entah beribu-ribu cemoohan datang menenggelamkanku dalam tangis. Yang lebih parah lagi, uang hasil jerih payah Mak dihambur-hamburkan begitu saja, bahkan sawah dan tanah harta peninggalan waris keluarga Mak, ikut habis terjual.
Aku hanya bisa diam dan tak ada air mata yang menetes lagi, Air mata itu telah menjadi gumpalan emosi yang terbelenggu dalam batin dan jiwa.
Label: Cerpen, Pengabdian Tulus
PENGABDIAN TULUS (Bagian 1)
Malam ini begitu indah, bulan yang purnama mengitariku dengan setia. Aku duduk ditaman ditemani semut, srigala, kucing, dan tikus, mereka menghiburku dan memanjakanku bak bidadari seperti film-film di TV. Aku larut dalam keriangan mereka, namun malam kian pekat dan angin makin berdesir dengan kencangnya, menusuk tulang-tulangku, meremukkan sendi-sendiku tapi semut, srigala, kucing, dan tikus tak mampu membantuku. Mereka semakin riang dan girang menyaksikan panorama alam yang baginya begitu indah namun menyiksaku ini.
Kulihat, di sela-sela semak rerumputan ada remang-remang disana, dan remang- remang itu makin lama makin membesar dan menampakkan wujudnya. Makin kudekati remang-remang itu tampak hilang wujud dan aslinya. Batinku pun menyeruak.” Ah, apakah ini halusinasiku belaka?”ataukah ia adalah sebuah monster yang akan melahap dan menelanku mentah-mentah malam ini? Ataukah wewe gombel yang akan mengajakku ke istananya yang serba megah dan indah? Tidak…tidak itu tak benar.” kucoba untuk menenangkan diri
Saat kerisauan dan ketakutan mulai memuncak dalam diriku, aku ingin berlari secepat kilat dari taman itu. Namun, kulihat dengan segera. Seperti ada sosok manusia disana. Dia seorang perempuan, akupun memberanikan diri untuk menatap matanya. Matanya putih bersih menampilkan segala keagungan dan keindahan. Meskipun tubuhnya terlihat kotor dan busuk namun mata itu sepertinya tetap memberi arti tersendiri bagi sanubariku. Sepertinya ia telah menjadi bagian dari raga ini, entah apa itu. Tiap kulihat tatapan matanya, begitu teduh batin dan pikiranku bahkan aku merasakan ada perasaan kasih sayang yang tak pernah kutemukan selama ini.
Ia berusaha mendekatiku……….
“Warni!!!!!!!!” Pekik Apakku
“Hah!!!!” aku segera beranjak dari tempat tidur, kutatap sekeliling dan nampaknya hari masih gelap , Mak sudah bergegas ke pasar, seperti biasanya.
Saat adzan subuh belum berkumandang ia mulai bergegas membeli barang-barang dagangan buat warung di rumah yang reot dan hampir peyok ini.
Sungguh salut diriku terhadap segala pengorbanannya terhadap keluarga, dialah tempat segala tumpuan dan harapan.
“Warni!!!!!!!!”
“Iya Pak, ada apa??!!!”
“Ayo cepetan, cuci semua cucian di dapur, dari tadi kok enak tidur-tiduran terus, Eh lihat ya! hari ini kamu harus sediakan Apakmu makanan yang enak-enak dan lezat. Oh ya nanti tolong cucikan bajuku dan setrikakan celana coklat di almari, Apakmu hari ini mau dines!”
Aku tetap saja akan mematuhi perintahnya, bagiku ini adalah pengabdian tulus yang tak ada habisnya, ia dan makku adalah penyelamat bagi hidupku ini. meskipun sebenarnya setan dan iblis hampir menyatu dengan diriku ketika ia mulai bertingkah. Aku muak dengan mulut dan giginya yang seperti onta itu. Dan aku berusaha mengendalikannya.
“Kerjaan apa lagi yang dilakukan Apak?!!!, ah paling-paling ia pergi dines.menggiliri istri keduanya itu, atau bahkan ia akan merampok uang istrinya itu.”Ah begitulah dia, aku memang sudah tahu tentang segala kegilaanya.” ungkapku dalam bisik.
Label: Cerpen, Pengabdian Tulus